Tampilkan postingan dengan label china. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label china. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Januari 2011

Buruh Migran kencangkan Ikat Pinggang

Buruh Migran kencangkan Ikat Pinggang
Diterbitkan : 19 Mei 2009 - 10:52am | Oleh Lioe Hesseling

Para buruh migran menghadapi masalah-masalah pelik dalam krisis ekonomi dunia sekarang. Mereka berjuang untuk bisa terus mengirim uang kepada keluarga di rumah.

Buruh migran dari Asia, Afrika dan Amerika Latin menghadapi pilihan pelik ketika pengangguran meningkat dan iklim politik di negara tempat mereka bekerja juga makin sengit. Ada yang berkemas untuk pulang kampung saja. Tetapi kelompok yang lebih besar lagi meningkatkan upaya supaya bisa terus mengirim uang ke kampung halaman.
Di Kanada, Schin Trivedi berbuat apa saja supaya bisa tetap mengirim uang ke ibunya di India. Buruh migran berusia 37 tahun ini mengirim sekitar 5000 dolar setahun. Di tengah cuaca buruk perekonomian, Triveldi bertekad tetap mengirim uang. "Ini tanggung jawab, jadi saya harus memenuhinya. Saya harus tetap mengirim uang kepada ibu di rumah."

Sepatu baru
Aliran yang disebut remittances atau uang kiriman para buruh migran sekarang terancam. Krisis ekonomi global menyebabkan para buruh migran ini terancam pengangguran dan iklim politik yang makin tidak ramah, karena mereka dianggap mencuri lowongan kerja warga setempat. Di lain pihak, keluarga di negara asal mereka tergantung pada uang kiriman yang bahkan bisa mencapai 65 persen pendapatan keluarga itu.

Manuel Oroszco, pakar yang menekuni aliran uang kiriman buruh migran menjelaskan apa dampak berkurangnya uang kiriman ini bagi mereka yang menerima:

"Dalam masa sulit ini, keluarga terlebih dahulu akan meninjau anggaran belanja mereka. Akibatnya makanan mewah dikurangi atau berpikir dua kali sebelum beli sepatu baru. Kalau resesi berlanjut, mereka terpaksa membelajakan tabungan, dan kalau tabungan habis maka situasi bagi gawat, itu adalah krisis."

Dolar merosot
Di negara tujuan, para buruh pendatang cenderung mengurangi pengeluaran supaya bisa terus mengirim uang ke kampung halaman. Apalagi karena keluarga punya pengeluaran tetap, seperti cicilan rumah dan uang sekolah.

Di Barranquilla, Kolombia, Johana Campo yang berusia 21 tahun, bisa kuliah di universitas karena bibinya di Miami mengirim uang tiap bulan. Karena tahun lalu dolar anjlok sampai 10% terhadap peso Kolombia, maka bibi Johana harus meningkatkan uang yang dikirim ke kampung asalnya. "Itu perlu untuk mengimbangi meningkatnya peso," kata Johana.

Uang lengket
Pedro Da Lima dari Bank Investasi Eropa, EIB, membenarkan bahwa uang yang dikirim ke rumah itu sekarang harus bisa bertahan menghadapi merosotnya pertumbuhan ekonomi:

"Ada alasan-alasan tertentu kenapa orang pindah ke negara lain dan mengirim upahnya ke rumah. Buruh migran tetap ingin mempertahankan taraf hidup keluarganya, mereka ingin membayar biaya pendidikan anak-anak atau memberesi perawatan kesehatan orang tua. Jadi uang yang dikirim ke rumah itu sudah lengket pada pengeluaran-pengeluaran tertentu."

Imigran diusir
Tekanan terhadap buruh migran supaya hengkang saja makin meningkat sejak krisis ekonomi memicu pengangguran. Proteksionisme tumbuh pesat sejalan dengan upaya mencari kambing hitam di negara-negara makmur yang terancam kekayaan mereka.
Britania dan Amerika Serikat menerapkan undang-undang yang melarang buruh migran melamar kerja, memaksa perusahaan-perusahaan mengutamakan 'pekerja pribumi'. Kebijakan pemberian visa bagi buruh asing diperketat dan pengusiran buruh migran yang tidak memiliki dokumen akan dipercepat. Pakar aliran uang buruh migran Manuel Oroszco mengatakan:

"Banyak majikan dengan mudah memPHK buruh, dan itu dimulai dengan buruh imigran. Karena, kalau yang dipecat buruh migran, maka majikan tidak perlu berurusan dengan asuransi atau tunjangan pengangguran. Hanya ada dua pilihan yang berkaitan dengan imigran: upah tetap rendah, atau bisa dipecat tanpa harus mengurusi tunjangan penggangguran, yang seharusnya mereka bayar kalau menyangkut karyawan biasa."

Di kompleks rumah kaca raksasa Campo de Dalias, dekat Almeria di Spanyol selatan, para buruh migran Afrika kini digeser oleh buruh Spanyol yang terancam pengangguran. Mereka kini mau memetik tomat sepanjang hari dengan upah 35 euro, itu dianggap sebagai peluang baik ekonomi.

Bekerja lebih keras
Tapi menurut Leila Rispens, kepala LSM kredit mikro INAFI, di seluruh dunia para migran terbukti sangat mampu bangkit kembali. Mereka akan bekerja tigakali lipat lebih keras dan akan mengurangi kebutuhan sendiri agar tetap bisa kirim uang ke sanak keluarga.

Luis Alberto Moreno, direktur Inter American Development Bank, setuju: "Kaum migran mudah menyesuaikan diri dengan kondisi sulit. Mereka ganti pekerjaan, memperpanjang jam kerja, mengurangi pengeluaran, pindah ke kota lain, bahkan mengambil uang tabungan agar tetap dapat mengirim uang ke sanak keluarga. Pulang kampung merupakan pilihan terakhir."

Ada alasan lain untuk tetap bertahan. Makin sulit masuk sebuah negara tertentu, makin besar pula kemungkinan buruh migran yang tidak memiliki surat-surat untuk tidak pindah walaupun sudah tidak bekerja lagi. Dengan adanya kebijakan migrasi yang fleksibel, kaum migran bisa keluar masuk sesuai lowongan kerja. Tetapi pemerintah yang mendukung kebijakan imigrasi ketat secara tidak langsung malah justru mendorong buruh migran ilegal untuk menetap di situ.

Sumber : http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/buruh-migran-kencangkan-ikat-pinggang


Indonesia Pengekspor Buruh Migran Terbesar Dunia
Selasa, 31 Agustus 2010 20:25 WIB

Kupang (ANTARA News) - Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor buruh migran terbesar dunia, akibat keterbatasan lapangan kerja dan kemiskinan, kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Perempuan Sarinah Nusa Tenggara Timur Lucia Adinda Lebu Raya di Kupang, Selasa.

Berdasarkan laporan "CARAM", sebuah lembaga peneliti AIDS dan Pertumbuhan Penduduk di Asia, setidaknya persentase buruh migran perempuan (BMP) Indonesia mencapai 80 persen.

"Sebagian besar dari buruh migran perempuan itu bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi, Malaysia, Singapura dan Hongkong," katanya.

Selain itu, kata Adinda, laporan "Human Rights Watch" menyebutkan setiap tahun antara periode 2006 sampai 2009, kurang lebih 5-6 juta Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bekerja di luar negeri.

Dari total TKI tersebut, sekitar 70 persen di antaranya adalah buruh perempuan dengan rata-rata lulusan SD, SMP, dan tertinggi SMA.

"Keterbatasan pendidikan dan ketrampilan inilah yang mengakibatkan kebanyakan dari mereka harus bekerja di sektor rumah tangga, buruh pabrik, buruh bangunan, penjaga toko, dan sebagainya," katanya.(*)

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/1283261137/indonesia-pengekspor-buruh-migran-terbesar-dunia

'Semangat Garuda' Buruh Migran di Singapura
Jumat, 05 Februari 2010 00:00 Arief Musthofifin

Ditha Purnama (35 tahun) asal Ciamis, Jawa Barat, ketika bekerja di Singapura dia mendapatkan gaji 250 dollar Singapura per bulan. Pada tahun ketujuh (2008) di Singapura, gaji bulanan Ditha mencapai 450 dollar Singapura (sekitar Rp 3 juta). Meskipun sebagai pekerja rumah tangga (PRT), Dhita tidak ingin terbelakang.

Di sela-sela tugasnya sebagai PRT keluarga asal Swedia, Dhita mengambil kursus komputer dan manajemen bisnis, serta menjalankan bisnis multilevel marketing.

Dari uang yang dikirim kepada orang tuanya di Indonesia, Dhita sudah memiliki investasi mesin penggiling padi seharga Rp 70 juta. Usaha penggilingan padi yang dijalankan oleh orang tuanya mampu menghasilkan pemasukan Rp 2 juta sampai 2,5 juta per bulan untuk keluarganya.

Sekarang, Dhita kembali mengumpulkan modal puluhan juta rupiah untuk mewujudkan cafe internet sewaktu dia pulang kampung kelak. Kita bisa melihat secara seksama, bahwa kesuksesan yang tercermin dari buruh migran tadi karena dia memiliki samangat “Garuda”. Yakni wujud nyata dari usaha-usaha mengembalikan Garuda Indonesia yang terus mengerdil, hingga menjadi burung emprit agar bisa tumbuh membesar kembali sebagai garuda sejati. Sehingga apa yang terjadi pada sementara orang sebagai buruh migran di luar negeri, bukan untuk selamanya menjadi buruh, namun untuk kelak di kemudian hari bisa menjadi sebagai pemilik buruh.

Pada tahun 2000 saat bersama majikan asal Swiss, dia bisa belajar komputer di Institut Informatika Singapura selama 1,5 tahun. Atas usaha dan semangat untuk menempa diri, pada tahun 2008 Sumarni diperkenalkan dan diumumkan sebagai Ketua Himpunan Penata Laksana Rumah Tangga di Singapura (HPLRTIS), suatu wadah komunitas pekerja rumah tangga di Singapura dari lebih 10.000 buruh migran di Singapura dengan para pejabat setempat.

Bekerja dan Menempa Diri

Ruang-ruang kesempatan untuk menempa diri selama menjalankan kontrak kerja di luar negeri, merupakan kesempatan emas yang perlu diisi dengan aktivitas yang terbaik. Yaitu bagaimana memanfaatkan waktu dan situasi yang sama, namun engan hasil yang lebih. Niat yang dibangun ketika menjadi buruh migran bukan hanya soal mencari d a n mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan makan harian.

Banyak yang bisa diraih dari sekadar akumulasi (terkumpulnya) materi-materi, harta dan benda. Di antaranya akumulasi modal, pengetahuan, jalinan hubungan yang luas, dan keahlian yang terus meningkat, serta akumulasi generasi, karena landasan pijak untuk semua laku ialah ketepatan menjalani niat.

Seperti difirmankan Allah SWT dalam surat Asyura Ayat 20 [Q.S. 42: 20]; Allah memberikan pembalasan kepada amal seseorang menurut niatnya. Dengan demikian, meskipun disibukkan dengan kewajiban mengurus rumah tangga majikan, buruh migran yang punya kebulatan tekad untuk menempa diri, Allah SWT akan memberikan jalan-Nya.

Meneguhkan Semangat Garuda

Fakta-fakta tadi adalah suatu bukti ketika ruang antar-dalam kemanusiaan tesingkap, maka jalan penghubung kelengkapannya terbuka lebar. Perbedaan antara buruh dan majikan mungkin terbatas pada bahasa penyebutan atau status kerjasama, bukan pada status beda agama atau beda kepemilikan materi. Justru sebagai hubungan kemanusiaan, buruh dan majikan adalah setara dalam ke-khalifahan [Q.S. 2:30].

Jalinan dan pertautan kerjasama saling membutuhkan dan menguatkan tersurat dalam surah al-Hujurat ayat 13. ”...Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu…” [Q.S. 49: 13].

Semangat yang menembus selsel batas antarmanusia akibat bentukan beda negara, status sosial, lingkungan, agama, dan kepemilikan materi, perlu terus-menerus diteguhkan jalannya. Semangat garuda bisa juga diartikan penghilangan atas rasa minder dan rendah diri terhadap bangsa lain.

Karena keminderan manusia PRT atas makhluk lain merupakan jalan lancar untuk berpaling dari-Nya. Syeikh Abdul Qodir Jaelani memberikan tiga hal yang bisa kita pakai untuk membuka ruang perantara hubungan setara antar sesama yang dapat pula dipakai pada relasi buruh migran dengan majikan. Yakni, ilmu, hikmah, dan siyasah. Ketiganya niscaya diperlakukan secara berimbang dan pas agar tercipta jalinan selaras antarruang kehidupan dan kemanusiaan. Menjadi buruh migran atau PRT di luar negeri bukanlah perburuhan, namun kemuliaan atau tingginya derajat pencapaian. Karena perubahan dan kehormatan posisi sesungguhnya merupakan perwujudan dari kelakuan pelakunya [Q.S. 13: 11]. Wallahu a'lam bil-shawab.

Sumber : http://www.fahmina.or.id/penerbitan/warkah-al-basyar/786-semangat-garuda-buruh-migran-di-singapura.html


Pekerja migran China tertekan karena tuntutan besar dari kampung halaman.

Desaku Sayang, Desaku Malang
Industrialisasi China telah mengubah rupa perdesaan Negeri Tirai Bambu. Desa ditinggalkan oleh pemudanya dan yang tersisa hanya orang tua dan anak-anak.

Rumah Ma Xianqian di desa bagian tengah China tampak lengang. Tulisan yang tertera di pintu gerbang rumah itu bermakna harapan kemakmuran.

Namun demi mengejar kemakmuran, Ma harus kehilangan nyawanya. Ma, pria pemalu berusia 19 tahun, termasuk salah seorang dari sepuluh pekerja di kompleks pabrik elektronik Foxconn yang tewas bunuh diri.

Kasus yang terjadi di pabrik di bagian selatan China itu menguak kondisi tragis 150 juta pekerja migran China. Foxconn dan kepolisian yakin Ma, sama seperti sembilan pekerja muda lainnya, tewas karena bunuh diri.

Namun orang tua Ma menduga putranya itu tewas dibunuh. Mereka mengatakan putranya sempat mendapat perlakuan semena-mena dari atasannya di pabrik.

Serangkaian kematian pekerja Foxconn selama tahun ini memicu kemarahan para pekerja di seluruh China yang menguak besarnya tekanan pekerjaan di pabrik-pabrik China.

Selain itu, fenomena ini dikhawatirkan akibat industrialisasi China yang memancing jutaan pekerja migran meninggalkan kehidupan mereka di perdesaan. Foxconn mengatakan pihaknya memperlakukan para pekerjanya secara manusiawi dan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Saudari Ma Xiangqian, Ma Liqun, yang juga bekerja di pabrik yang sama, mengatakan keresahan pekerja disebabkan oleh jam kerja yang panjang, tuntutan produksi yang tinggi dengan disiplin sangat ketat.

Perjalanan Ma dari desa lengang di Provinsi Henan menuju ke kompleks perindustrian di selatan China menggambarkan betapa tingginya harapan para pekerja migran mencari pendapatan yang lebih baik. Namun ternyata harapan mereka berujung maut.

“Keras dan terang, tahun ini akan lebih baik dibanding tahun lalu,” bunyi pepatah tradisional Tahun Baru Imlek yang ditempel di gerbang rumah Ma.

“Naga dan macan hidup, tahun depan akan lebih baik.” Ma mengambil pekerjaan di Foxconn untuk membantu keluarganya melunasi utang sebesar 60.000 yuan yang digunakan untuk membangun rumah dua tingkat.

Rumah itu bertujuan supaya Ma dapat melamar seorang gadis. “Di desa, sesulit apa pun, kita harus membangun rumah yang layak agar anak kami dapat menikah,” kata ayah Ma, Ma Zishan.

“Keluarga membutuhkan seorang putra untuk menjaga keutuhan keluarga dan mengurus sawah. Namun kini dia sudah meninggal dan saya tidak tahu harus bagaimana.”

Orang tua Ma sudah dijatuhi denda karena memiliki empat anak, jumlah yang melebihi batas yang ditetapkan dalam program keluarga berencana. Sama seperti warga desa lain, mereka berharap anakanak menemukan pekerjaan dan mengirim uang untuk membantu membangun rumah, membeli sepeda motor, dan televisi. Tekanan Besar Para pekerja migran China mendapat tekanan lebih besar dari keluarga mereka di kampung halaman. Hal ini yang membuat mereka semakin resah.

“Selama bekerja, para pekerja migran menanggung beban membangun rumah, menikah, punya anak, dan sukses. Tekanan ini terus mendorong mereka,” kata Li Changping, mantan pejabat desa yang dikenal karena mengurangi beban ekonomi para petani.

Li menyatakan tidak mungkin mengaitkan langsung kematian pekerja Foxconn dengan tekanan dari kampung halaman. “Namun para pekerja mau tidak mau merasakan tekanan,” imbuhnya.

Sama seperti masyarakat pedesaan China modern, kampung halaman Ma didominasi oleh orang tua dan anak-anak.

“Nyaris semua orang muda pergi untuk mencari kerja,” kata Ma Zibing, warga desa berusia 62 tahun. Sebagian besar masyarakat perdesaan mencari kerja ke Guangdong dan ke semua penjuru negeri. Yang tersisa di desa adalah orang tua dan anak-anak,” ujarnya.

Hasil Pertanian Penduduk desa mampu menghasilkan ribuan yuan per tahun dengan membudidayakan tanaman umbi-umbian, bunga, serta sayur mayur. Hasil panen mereka kemudian dijual ke kota-kota besar.

Namun hasil panen dari bertani atau berkebun masih kurang bagi pemuda-pemuda desa. Mereka cenderung memilih bergabung dengan jutaan pekerja migran yang bekerja di sektor infrastruktur, properti, dan manufaktur.

Di Provinsi Henan, dari 100 juta penduduk, nyaris 70 persen dari mereka adalah pekerja migran dari perdesaan.

“Kita harus melakukan semua itu untuk mendapat banyak uang,” kata Ma Wenfang, warga desa berusia 21 tahun.

Dia kembali ke desa untuk menikah setelah bekerja di pabrik di China bagian selatan. Pertanian bukan pilihan bagi pemuda dan pemudi desa China saat ini. “Tidak ada lagi yang mau bertani.

Tidak ada seorang pun seusia kami yang bisa bercocok tanam,” kata Me Wenfang. Di kampung halaman Ma Xianqian, umbi-umbian yang dulu menjadi sumber pendapatan keluarga layu dan mati.

Lahannya pun semakin banyak ditumbuhi rumput ilalang. Para tetangga yang simpatik tidak bisa berbuat banyak.

“Tidak ada seorang pun yang punya waktu membantu. Kami semua terlalu sibuk mengurus urusan masing-masing,” kata Ma Shujian, seorang tetangga Ma Xianqian.
Sumber : http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=56379

Indonesia, TKI, TKW, BMI, Migrant, migran, buruh, pekerja, perawat, nurse, baby sitter, prt, pembantu rumah tangga, hongkong, korea, china, rrc, batam

Sejarah dan Perkembangan Hongkong

Hong Kong

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Hong Kong (Mandarin: ; Pinyin: Xiānggǎng; resminya Daerah Administratif Khusus Hong Kong) merupakan satu dari dua Daerah Administratif Khusus yang merupakan bagian dari negara Republik Rakyat Cina, satunya lagi adalah Makau. Pada tanggal 1 Juli 1997, daerah ini secara resmi diserahkan oleh pemerintah Britania Raya kepada Republik Rakyat Cina.

Sebelum diserahkan pada tahun 1997, Hong Kong adalah koloni Britania Raya. Di bawah kebijakan Satu Negara Dua Sistem ciptaan Deng Xiaoping, Hong Kong menikmati otonomi dari pemerintah RRC seperti pada sistem hukum, mata uang, bea cukai, imigrasi, peraturan jalan yang tetap berjalan di jalur kiri. Urusan yang ditangani oleh Beijing adalah pertahanan nasional dan hubungan diplomatik. Otonomi ini berlaku di Hong Kong (minimal) untuk 50 tahun dihitung dari tahun 1997.

Sejarah Hong Kong
Wilayah Hong Kong diperkirakan sudah mulai ditinggali manusia sejak zaman Neolitikum namun baru dikenal secara luas saat Hong Kong diserahkan kepada Britania Raya setelah Perang Opium di abad ke-19. Sebelumnya pada 1513, pelaut Portugis Jorge Álvares, menjadi orang Eropa pertama yang mengunjungi Hong Kong.
Dalam Konvensi Peking tahun 1860 setelah Perang Opium Kedua, Semenanjung Kowloon dan Stonecutter's Island diserahkan kepada Britania Raya sedangkan New Territories, termasuk Pulau Lantau, disewakan pada
Geografi Hong Kong
Hong Kong terdiri dari Pulau Hong Kong, Kowloon, dan New Territories jika diurutkan dari selatan . Di sebelah utara New Territories terdapat kota Shenzhen di seberang Sungai Sham Chun (Sungai Shenzhen). Di antara 236 pulau di Hong Kong, Pulau Lantau adalah yang terbesar sedangkan Hong Kong adalah yang kedua terbesar dan populasinya adalah yang terbesar. Pulau yang paling padat adalah Ap Lei Chau.
Semenanjung Kowloon menempel ke New Territories di utara, dan New Territories menempel ke Tiongkok daratan di seberang Sungai Sham Chun (Sungai Shenzhen). Hong Kong memiliki 236 pulau di Laut China Selatan, yang di mana Pulau Lantau merupakan pulau terbesar dan pulau Hong Kong yang kedua terbesar dan paling besar populasinya. Ap Lei Chau merupakan yang paling padat penduduknya di Hong Kong dan di dunia.
Transportasi Hong Kong
Dari dan Ke
Hong Kong dilayani oleh Bandara Internasional Hong Kong di Chek Lap Kok namun lebih sering dikatakan terletak di Lantau. Bandara tersebut menggantikan Bandara Internasional Kai Tak di tahun 1998 dan menjadi pusat untuk Cathay Pacific Airways, Dragonair, Air Hong Kong, dan Hong Kong Express. Maskapai Cathay Pacific dan bandara ini pernah mendapatkan penghargaan sebagai yang terbaik di dunia oleh Skytrax. Pada 2004, bandara ini melayani 36 juta penumpang.
Dalam Kota
Hong Kong memiliki sistem transportasi dalam kota yang mapan dan modern yang terdiri dari kereta api, bus, tram, feri, dan taksi. Hampir semua layanan transportasi dapat dibayar menggunakan Octopus Card.
Jaringan kereta bawah tanah dikelola oleh MTR Corporation Limited yang mengelola MTR dan Kowloon-Canton Railway Corporation yang mengelola KCR sedangkan layanan tramnya adalah satu-satunya di dunia yang memakai kereta tram dua tingkat. Jaringan bus dikelola oleh 5 operator yang menggunakan bus dua tingkat seperti terdapat di London dan Singapura. Terdapat pula layanan taksi yang 99% armadanya menggunakan LPG.
Layanan feri yang paling dikenal adalah Star Ferry yang menyeberangi Victoria Harbour antara Tsim Sha Tsui, Central, Wan Chai, dan Hung Hom.
Pariwisata

Pariwisata adalah salah satu tonggak utama perekonomian Hong Kong dengan 21,81 juta orang turis di tahun 2004. Selama Januari sampai April 2005, jumlah turis terus meningkat sebesar 11,1% dan mencapai 7,41 juta orang. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat setelah dibukanya Hong Kong Disneyland Resort pada bulan September 2005.
Beberapa lokasi dan daerah yang menjadi tujuan wisata antara lain
Kowloon
• Tsim Sha Tsui
o Avenue of Stars
o Star Ferry
Hong Kong
• Victoria Peak
• Victoria Harbour
o Pertunjukan Symphony of Lights
• Aberdeen
o Ocean Park
• Menara Bank of China
• Hong Kong Convention and Exhibition Centre
Lantau
• Po Lin Monastery
o Tian Tan Buddha
• Tai O
• Hong Kong Disneyland Resort
o Hong Kong Disneyland
• Jembatan Tsing Ma
• Jembatan Ting Kau

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Hong_Kong


SEJARAH DAN PERKEMBANGAN HONGKONG

Perang Opium

Dinasti yang terakhir berkuasa dalam sejarah Tiongkok adalah Dinasti Qing. dinasti ini berkuasa selama 268 tahun, antara tahun 1644 dan 1911 dengan sepuluh kaisar berturut-turut naik takhta di Beijing. Dinasti Qing merebut kekuasaan dari Dinasti Ming pada tahun 1644 melalui pemberontakan yang dipimpin oleh Li Zicheng.

Di bawah kekuasaan Dinasti Qing, pertanian Tiongkok berkembang cukup pesat karena perhatian pemerintah. tetapi dalam hubungan dengan luar negeri, Dinasti Qing sangat terisolasi karena cenderung menutup diri. Mereka merasa makmur dengan apa yang telah dicapainya tanpa bergantung pada dunia luar, sebaliknya dunia luar terutama Barat sangat bergantung pada barang-barang ekspor Tiongkok seperti sutera, tembikar, rempah, teh, dan porselen. barang-barang ekspor Tiongkok tersebut bermutu tinggi sehingga memberikan keuntungan yang sangat besar bagi para pedagang Eropa yang menjualnya di wilayahnya.

Dengan melihat potensi yang besar tersebut serta pasar yang menjanjikan di China tersebut , Inggris yang pertama kali berlabuh Guangzhou (Canton) pada abad ke-16 akhirnya memilih berdagang opium mulai tahun 1773 – ketika itu penggunaan opium di masyarakat China cukup luas. Inggris mendatangkan opium dari India. Strategi bisnis Inggris berjalan sukses, opium menadapatkan pasar yang luas di kalangan rakyat Guangzhou.

Banyaknya pecandu opium di Guangzhou membuat pemerintah China yang ketika itu di bawah pimpinan Kaisar Tao Kwang, pada tahun 1800 mengambil tindakan tegas dengan melarang perdagangan opium, dan pada 1839 pemerintah menyita dan memusnahkan opium di Guangzhou dan Kanton yang diimpor dari Inggris tersebut. Tindakan penguasa China ini dilakukan karena fenomena tersebut berpengaruh besar pada kondisi sosial dan ekonomi wilayah tersebut. Jutaan pecandu akan membayar berapapun dan melakukan apapun untuk mendapatkan opium yang diimpor dari Inggris.

Reaksi keras penguasa China ini membuat pemerintahan Inggris memutuskan untuk melakukan perang pada tahun 1840. Perang ini dinamakan dengan Perang Opium I. Perang ini berlangsung selama tiga tahun dari 1839 hingga 1842. Perang ini dimenangkan oleh Inggris, karena kekuatan militernya lebih kuat dengan persenjataan canggih. Sejak saat itu, perdagangan opium dimulai kembali.

Perang ini menyebabkan lebih dari 30 ribu rakyat China tewas. Akhirnya penguasa China, Dinasti Qing, bersedia menandatangani perjanjian damai dengan Inggris pada 29 Agustus 1842 di atas kapal perang Inggris HMS Cornwallis di Nanjing/Nangking, sehingga perjanjian ini dinamakan Perjanjian Nanjing (Treaty of Nanjing). Isi perjanjian tersebut adalah: pertama, Cina harus membayar upeti 21 juta dolar ke Inggris sebagai ganti rugi; kedua, Cina harus membuka kembali pintu perniagaan ke dunia barat, dengan membuka pelabuhan di Guangzhou, Jinmen, Fuzhou, Ningbo, dan Shanghai; ketiga, China harus menyerahkan wilayah Hong Kong beserta pulau-pulau kecil di sekitarnya kepada Inggris sebagai tanah jajahannya. Namun demikian penguasa China terus berupaya menghentikan perdagangan opium tersebut, sehingga beberapa tahun kemudian terjadi Perang Opium II. Dalam perang tersebut China kembali mengalami kekalahan.
Hong Kong Modern

Di bawah kekuasaan Inggris, Hong Kong dibangun di atas fondasi Demokrasi dan Liberalisme, sedangkan China merupakan pusat Sosialisme dan Komunisme di Asia. Secara geopolitik, hingga masa era Perang Dingin Hong Kong merupakan bagian dari agenda Containment Politics/Politik Pembendungan negara-negara Blok Barat untuk membendung penyebaran paham Komunisme wilayah-wilayah di sebelah selatannya (Asia Tenggara).

Setelah sekitar 156 tahun dikuasai Inggris, akhirnya Hong Kong dikembalikan kepada China pada 1 Juli 1997. Di bawah sistem kapitalisme, Hong Kong telah tumbuh menjadi pusat keuangan, perdagangan, pelayaran, logistik dan pariwisata internasional di kawasan Asia Pasifik, sehingga ketika awal kembalinya ke pangkuan China muncul kekhawatiran di kalangan luas masyarakat Hong Kong akan terjadi perubahan sistem dari demokrasi-kapitalis menjadi komunis-sosialis ala China. Rekonstruksi sistem ini tentu saja akan mengguncang ekonomi dan politik Hong Kong, apalagi ketika itu ekonomi China masih berada di bawah Hong Kong.

Menjelang pengembalian Hong Kong ke China, Deng Xiaoping, pemimpin China ketika itu, berjanji akan menerapkan konsep “satu negara dua sistem”. Konsep tersebut memberikan otonomi kepada pemerintah Hong Kong seperti pada sistem hukum, mata uang, bea cukai, imigrasi, peraturan jalan yang tetap berjalan di jalur kiri, kecuali urusan yang menyangkut pertahanan nasional dan hubungan diplomatik yang tetap ditangani oleh pemerintah pusat di Beijing. Dengan kata lain, konsep tersebut menjamin Hong Kong tetap berdiri di atas sistem kapitalis, dan China tetap berada dalam sistem sosialis.
Dalam perjalanannya, implementasi sistem ini berjalan dengan cukup baik. Bahkan ketika terjadi krisis moneter Asia pada tahun 1997, Beijing menyokong penuh pertumbuhan ekonomi Hong Kong sehingga bisa bertahan dan melaju pesat. Bersamaan dengan itu, ekonomi China juga berkembang dengan cepat sehingga taraf ekonomi masyarakat China daratan dan masyarakat Hong Kong semakin berimbang.

Paling tidak ada dua hal yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi Hong Kong sangat baik setelah kembali dalam kekuasaan China. Pertama, pemerintah Hong Kong memfokuskan pengembangan sektor pariwisata sebagai sumber devisa utama. Hong Kong dibangun menjadi kota modern namun dengan tetap menampilkan eksotisme nuansa klasiknya. Kebijakan ini diambil karena sektor perdagangan ketika itu sedang lemah akibat krisis moneter Asia. Langkah ini membuahkan hasil yang memuaskan. Pada tahun 2003, perekonomian Hong Kong mengalami pertumbuhan 31%. Selama januari sampai April, 2005, jumlah turis terus meningkat sebesar 11, 1% dan mencapai 7, 41 juta orang. Hong Kong menjadi tempat persinggahan utama bagi para pebisnis yang hendak berurusan ke Cina. Para wisatawan juga banyak berdatangan dari China daratan seiring dengan pertumbuhan taraf ekonomi negara tersebut.
Kedua, Beijing menerapkan sistem satu negara dua sistem dengan konsisten, sehingga kestabilan politik tetap terjaga, hubungan Beijing dengan Hong Kong berjalan dinamis, dan iklim investasi baik dari dalam maupun luar negeri semakin meningkat. Hal ini tentu saja berpengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi Hong Kong dan memberikan kepuasan masyarakat pada pemerintah. Ekspor Hongkong ke daratan tahun 2006 mencapai puncak: HKD 8,3 miliar (Rp 9,545 triliun). Investasi Hongkong di daratan mencapai HKD 9, 2 miliar (Rp 10,580 triliun). Sedangkan investasi daratan ke Hongkong mencapai HKD 5, 1 miliar (Rp 5,865 triliun). Untuk terus meningkatkan hubungan ekonomi, pemerintah kedua wilayah menerapkan sistem perdagangan bebas yang menyebutkan bahwa impor barang dari dua negara tidak dikenai bea masuk. Kebijakan ini berlaku bagi 38 item jenis perdagangan dan akan ditambah lagi 11 jenis di masa akan datang.

Apabila kedua hal ini berjalan dengan konsisten, maka Hong Kong bersama dengan China akan segera menyusul pertumbuhan ekonomi Jerman yang saat ini menduduki urutan tiga besar setelah AS dan Jepang. Hong Kong tetap akan menjadi pusat keuangan, perdagangan, logistik, pariwisata dan pelayaran internasional.

Penutup

Perang Opium I antara China dan Inggris yang terjadi pada tahun 1839-1842 terhadi karena Inggris memasarkan opium di wilayah China secara ilegal dan menyebabkan jutaan rakyat China kecanduan opium. Inggris berhasil mengalahkan China dalam perang ini dan memaksanya menandatangani perjanjian Nanjing yang salah satu isinya adalah China harus menyerahkan wilayah Hong Kong kepada Inggris.

Pada tanggal 1 Juli 1997 Hong Kong dikembalikan kepada pemerintah China. Untuk menjaga integrasi dan pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut, pemerintah China menerapkan konsep satu negara dua sistem. Konsep tersebut membiarkan Hong Kong tetap menerapkan sistem ekonomi kapitalis dan sistem politik demokrasi.

Paling tidak ada dua hal yang menjadikan Hong Kong sukses dalam meningkatkan pertumbuhan ekonominya hingga sekarang, yaitu: pertama, pemerintah Hong Kong memfokuskan pengembangan sektor pariwisata sebagai sumber devisa utama karena sektor perdagangan sejak krisis moneter Asia tahun 1997 mengalami penurunan; kedua, Beijing menerapkan sistem satu negara dua sistem dengan konsisten, sehingga kestabilan politik tetap terjaga, hubungan Beijing dengan Hong Kong berjalan dinamis, dan iklim investasi baik dari dalam maupun luar negeri semakin meningkat. Dengan begitu, Hong Kong diharapkan akan tetap akan menjadi pusat keuangan, perdagangan, logistik, pariwisata dan pelayaran internasional.

Sumber : http://tkihongkong.blogspot.com/

Hongkong, china, pekerja, worker, labor, labour, tkw, tki, perawat, babu, prt, pembantu, rumah tangga, nurse, kerja, sejarah, perkembangan, RRC